Thursday, October 30, 2008

Studiklub Teater Bandung Berulang Tahun ke 50

Usia tua tak selalu berkesan renta. Setidaknya itulah yang ingin disampaikan oleh sebuah perkumpulan teater tertua di bumi Indonesia ini.

Studiklub Teater Bandung (STB) pada tanggal 13 Oktober 2008 ini genap berusia 50 tahun. Sebuah usia paling panjang yang mampu diraih oleh sebuah kelompok teater kita. Kota Bandung bisa berbangga karenanya, karena dibanding dengan kelompok teater lain di Indonesia ini, baru Bandung yang memiliki kelompok teater yang mampu bertahan hadir di hadapan publik dengan produktivitas yang berkesinambungan dari tahun ke tahun meski mereka berkegiatan secara mandiri, tanpa subsidi dari Pemerintah.

Organisasi ini pada awalnya didirikan oleh para mahasiswa energik yang saat itu mempunyai semangat kreativitas tinggi dan karenanya membutuhkan sebuah wadah untuk menampung kegiatan mereka. Ada 7 orang mahasiswa, 5 orang diantaranya adalah mahasiswa Seni Rupa ITB, ditambah seorang wartawan Pikiran Rakyat dan seorang mahasiswi Hukum UNPAR yang memprakarsai pendirian STB dengan mendaftarkan Organisasi ini dihadapan Notaris, dan sejak itulah perkumpulan ini kemudian berkiprah tanpa henti di ajang perteateran Indonesia.

Para pendiri itu kini sudah berangkat tua, bahkan sebagian sudah dipanggil pulang kembali menghadap Illahi, tetapi yang tertinggal masih terus bergiat hingga kini, antara lain adalah Prof. DR. Sutardjo AWM, yang masih aktif sebagai pengajar ahli di bidang Psikologi, disamping jabatan-jabatan lain yang disandangnya di berbagai lembaga.

Ketahanan STB menjaga energi kehidupan organisasi adalah karena regenerasi dilakukan melalui pendidikan Seni Peran yang dilakukan setiap tahun, yang diikuti oleh para kawula muda.

Dalam rangka mensyukuri usia setengah abad itu, STB bekerja sama dengan Selasar Sunaryo Art Space, akan menggelar kegiatan bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, Jalan Bukit Pakar Timur No. 100 Bandung, pada hari Jumat tanggal 31 Oktober 2008, dimulai pukul 19.00 WIB.

Kegiatan akan diisi oleh pergelaran "Pinangan" karya Anton Chekov yang akan dimainkan oleh perupa Tisna Sanjaya dan isterinya Molly Agustina, dibantu dan disutradarai oleh Yusef Muldiyana. Selain Pinangan, akan ditampilkan pula lakon "Pagi yang Cerah" karya Serafin & Joaquin Alfarez Quintero, dimainkan oleh aktor tua Mohamad Sunjaya dan Yati Suyatna. Juga akan diluncurkan buku-buku peninggalan Suyatna Anirun almarhum, salah seorang pendiri STB yang dihibahkan oleh isteri Suyatna kepada Pustaka Selasar Sunaryo.

Acara ini diharapkan akan dihadiri selain oleh para sahabat STB, para perupa terkenal, tokoh teater Slamet Rahardjo, Nano Riantiarno beserta Ratna Riantiarno dan tokoh selebriti yang kini menjadi pejabat Pemerintahan yakni Dede Yusuf. Bagi para pecinta teater yang mungkin terluput dari undangan, dipersilakan hadir pada waktunya.
-salam-
Selasar Sunaryo Art Space
Jln. Bukit Pakar Timur No. 100
Bandung - 40198
West Java - INDONESIA
Ph: +62 22 2507939
Fax: +62 22 2516508
E-mail: selasar@bdg.centrin.net.id

Labels:

PTC..? apa itu?

PTC apa itu?
jelasnya cari aja di wikipedia supaya jelas mah....
Ceritanya... pengen mendapatkan penghasilan dengan media internet...
Lalu ada temen memperkenakan clixsence,com,
setelah saya coba daftar... wuiiiihh keselnya... krena iklannya cuma satu dua aja itu pun ngak tiap hari... saya pun mulai meninggalkan ngeklik iklan...
setelah lama baru saya dikenalkan pada PTC Paid to click....
weleh.... weleh ternyata bukan hanya clixsence aja... tapi banyak sekali ya...
makanya saya pun menghadiri forum forum site PTC meski hanya membaca aja hanya untuk mengumpulkan informasi....

buat anda yang mau mencoba PTC lebih baik kunjungi dulu situs ini www.extra1st.com
disitus ini site PTC diranking... mana baik dan buruknya tentu saja anda sendiri yang menilai... tapi di sanapun ada penjelasannya.

selamat mengklik....

Labels:

Monday, September 01, 2008

"Notabilia"

Selasar Sunaryo Art Space dengan hormat mengundang anda untuk hadir pada pembukaan pameran tunggal Irman A. Rahman:

"Notabilia"
Kurator: Asmudjo J. Irianto

um'at 22 Agustus 2008 pk.19.30 WIB

Bale Tonggoh

Selasar Sunaryo Art Space

Jl. Bukit Pakar Timur no.100 Bandung

Diresmikan oleh: Sunaryo







Irman A. Rachman, seniman Bandung yang kerapkali menggunakan wujud teks—huruf-huruf dan kata-kata yang ditampilkan secara acak—dalam karya-karyanya, kali ini memamerkan lukisan dan objek yang mengeksplorasi gagasan tentang ‘ingatan’. ‘Notabilia’ adalah sebuah istilah untuk menggambarkan keterkaitan yang kompleks antara ‘nota’ (catatan) dan ‘memorabilia’ (kenangan) yang difahami secara personal oleh Irman sebagai jalan masuk untuk memahami konsep artistiknya.






Selasar Sunaryo Art Space
Jln. Bukit Pakar Timur No. 100
Bandung - 40198
West Java - INDONESIA
Ph: +62 22 2507939
Fax: +62 22 2516508
E-mail: selasar@bdg.centrin.net.id
Website: www.selasarsunaryo.com
Open daily 10 am - 17 pm (Closed on Monday and Public Holiday)

Pameran A Decade of Dedication: Ten Years Revisited

Term of Reference Kuratorial
Pameran A Decade of Dedication: Ten Years Revisited
Dekade Dedikasi : Mengenang 10 Tahun Selasar Sunaryo Art Space


Pengantar
Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) didirikan oleh Sunaryo sebagai sebuah ruang publik yang terbuka untuk berbagai ekspresi kesenian. Sejak pendiriannya pada tahun 1998, beragam jenis kegiatan telah berlangsung: pameran seni rupa, pementasan seni pertunjukan, konser musik, pemutaran film, lokakarya, diskusi, program anak-anak, pembacaan puisi dan lain sebagainya. Semua itu diselenggarakan dengan tujuan menghadirkan praktik seni sebagai suatu wahana bagi publik untuk memahami berbagai persoalan kebudayaan terkini, dan kehidupan manusia secara lebih luas. Dalam setiap programnya SSAS selalu menyasar berbagai lapisan publik, dengan cara menyajikan bobot dan jenis kegiatan yang beragam.

Selama 10 tahun puluhan praktisi seni telah terlibat dalam berbagai kegiatan di SSAS—penulis, pelukis, pematung, keramikus, pegrafis, musisi, aktor, sutradara, sastrawan, dll.—dari yang muda hingga yang senior, dari Indonesia maupun mancanegara. Karya-karya mereka ditampilkan dalam program-program yang beragam motif dan tujuannya, namun tetap melalui seleksi kuratorial yang ketat yang rinci untuk menghasilkan presentasi terbaik. Sebagian besar program yang terselenggara memberikan ruang dan fokus pada karya-karya seniman muda, atau seniman-seniman yang sebelumnya tidak terekspos dengan baik dalam perbincangan publik. Selama 10 tahun, program-program di SSAS selalu dirancang tiap tahunnya melalui mekanisme kuratorial yang melibatkan usulan dan kesepakatan di antara sejumlah pakar seni budaya.

A Decade of Dedication: Ten Years Revisited adalah pameran yang akan dilaksanakan sebagai bagian rencana program peringatan 10 tahun Selasar Sunaryo Art Space (SSAS, 1998 – 2008). Pameran ini akan menampilkan karya-karya seniman-seniman nasional maupun internasional terpilih yang pernah terlibat dalam program-program SSAS sejak 10 tahun terakhir. Keterlibatan mereka selama ini telah memberikan kontribusi penting, tidak hanya bagi pencapaian visi dan misi SSAS, tapi juga bagi publik yang selama ini menikmati program-program yang terselenggara. Pameran ini juga merupakan bentuk penghargaan dan ucapan terimakasih kepada mereka yang telah memberi corak pada kesenian yang diusung dalam program-program di SSAS selama 10 tahun.

Pameran akan dilaksanakan mulai dari 5 September – 5 Oktober 2008. Pembukaan pameran akan dilakukan bersamaan juga dengan peluncuran buku “ A Decade of Dedication “. Kurasi pameran ini akan dikerjakan oleh Agung Hujatnikajennong dan Albert Yonathan Setyawan. Dalam perancangan mekanisme kuratorial pameran ini, seniman akan diminta untuk merespon suatu topik / tema yang khusus.


Tema:
Memahami kembali apa itu ‘Seni’, Hari ini dan Esok

Kompleksnya perkembangan praktik dan wacana seni sampai saat ini sudah seharusnya memunculkan pertanyaan mengenai makna seni itu sendiri. Pertanyaan itu akan terus relevan untuk diajukan mengingat dari masa ke masa seni terus berkembang, semakin beragam dan tidak pernah statis. Mungkin untuk beberapa orang, mempertanyakan arti seni saat ini dirasa tidak perlu karena dengan semakin marak dan beragamnya praktik yang berlangsung saat ini, maka dapat segera diidentifikasi bahwa praktik itulah jawaban dari pertanyaan tersebut.

Akan tetapi, pertanyaan tentang apa itu seni sesungguhnya akan menjadi semakin penting untuk diperbincangkan kembali terutama jika definisi seni sudah menjadi begitu plural dan beragam. Pertanyaan tersebut bukanlah untuk mencari sebuah pengertian yang tunggal / definitif, melainkan untuk membawa praktik seni dalam sebuah pemahaman yang lebih mendalam, sehingga berbagai perkembangannya dapat ditengarai sebagai refleksi dari suatu pernyataan tentang semangat suatu zaman.

Manusia sekarang hidup dalam sebuah konstruksi realitas yang terpecah-pecah, terkategorisasi, dan terpisah satu sama lain. Dalam situasi ini, sangat sulit bagi kita untuk bisa mengalami realitas tersebut dalam suatu perspektif yang utuh. Hal ini berimbas juga dalam banyak praktik kesenian. Dengan perspektif yang sempit, kebanyakan seniman melihat seni hanya sebagai sebuah arena untuk mengejar kebebasan ekspresi individual. Dalam kondisi ini seniman seolah sedang menjauh dari kesadaran akan keutuhan dengan lingkungan diluar dirinya. Inilah yang menjadi tantangan bagi wacana praktik seni sekarang karena pemaknaan terhadap seni seharusnya tak terpisahkan dari dinamika pengalaman sosial.

Sebagai sebuah ruang seni, SSAS selalu ingin berupaya untuk melihat seni secara lebih luas, sebagai hasil dari dinamika/interaksi pengalaman sosial—yakni, antara seniman dengan dunia internalnya yang esoterik dan spesifik, dengan publik yang menikmati karya-karya mereka sebagai hasil dari eksternalisasi suatu gagasan. Salah satu tujuan dari pameran ini adalah bagaimana melihat keterhubungan gagasan seorang seniman tentang ‘seni’ dengan karya-karya yang diwujudkan, sehingga seni dapat menjadi sebuah praktik yang benar-benar memiliki makna, bukan hanya sekedar sebuah konstruksi visual yang hadir di sebuah ruang khusus seperti galeri, museum atau ruang publik yang lain.

Pameran ini meyakini bahwa saat ini terdapat berbagai definisi tentang seni yang secara spesifik dan berbeda-beda diyakini oleh masing-masing praktisinya. Namun, pameran ini juga menimbang bahwa di tengah wacana dan praktik seni yang akan terus berkembang dan bergerak, penting bagi para seniman untuk tidak hanya larut dan terbawa dalam arus yang sedang berlangsung. Seniman juga seharusnya bisa berperan dalam arahan dan perspektif tentang seni di masa depan. Pameran ini juga hendak melihat bagaimana para seniman dapat menimbang kembali ekspresi seni saat ini dalam keterkaitan dengan berbagai pengalaman manusia yang lebih utuh.



(Agung Hujatnnikajennong & Albert Yonathan Setyawan)




Timeline Persiapan Pameran

Sebagai bagian dari proses kuratorial dalam pameran ini curator akan melakukan wawancara tertulis atau lisan untuk menggali pertanyaan tentang ‘apa itu seni, hari ini dan esok’. Diharapkan setiap seniman dapat memamerkan 1 sampai 2 karya terbaru beserta caption khusus yang memuat pernyataan masing-masing tentang ‘apa itu seni, hari ini dan esok’. Pernyataan dalam caption tersebut akan diambil dari hasil wawancara.

Berikut adalah jadwal yang perlu diperhatikan untuk persiapan materi pameran khususnya untuk materi katalog pameran dan persiapan display karya:

- Draft surat perjanjian kerja sama antara SSAS dan seniman peserta yang sudah di tandatangani oleh pihak seniman harap dikirimkan kembali ke SSAS. Paling lambat diterima oleh pihak SSAS pada tanggal 5 Juli 2008
- Wawancara dengan seniman akan dllakukan mulai 7 Juli 2008 sampai 31 Juli 2008. Mengenai jadwal wawancara dapat disepakati lebih lanjut antara kurator dan seniman
- C.V. seniman, Image dan data karya harap untuk dikirimkan ke SSAS paling lambat tanggal 11 Agustus 2008.
- Pengiriman karya paling lambat diterima oleh pihak SSAS tanggal 26 Agustus 2008.
- Display karya akan dilakukan mulai tangal 27 Agustus 2008. Untuk beberapa karya yang memerlukan perlakuan khusus, display karya akan dilakukan bersama dengan senimannya.
- Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi
Anggia Tresna Purnama Sari, Telp: 022-2507939, Fax : 022-2516508
Albert Yonathan Setyawan, Telp: 081809692193 / (022) 2534242


Selasar Sunaryo Art Space
Jln. Bukit Pakar Timur No. 100
Bandung - 40198
West Java - INDONESIA
Ph: +62 22 2507939
Fax: +62 22 2516508
E-mail: selasar@bdg.centrin.net.id
Website: www.selasarsunaryo.com
Open daily 10 am - 17 pm (Closed on Monday and Public Holiday)

Sunday, June 22, 2008

Program Pemutaran Film

Program Pemutaran Film
Selasar Weekend Cinema
“9808: Antologi 10 Tahun Reformasi”
28-29 Juni 2008
Selasar Sunaryo Art Space
Jl.Bukit Pakar Timur no.100 Bandung

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) bekerjasama dengan Proyek Payung menyelenggarakan program pemutaran film Selasar Weekend Cinema yang kali ini bertajuk “9808: Antologi 10 Tahun Reformasi”. Program ini merupakan program penghormatan terhadap satu dekade reformasi dengan menyiapkan sejumlah film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei ‘98. Setiap pemutaran diikuti dengan 1 (satu) kali diskusi. Proyek ini ditujukan sebagai upaya membuka dialog terutama dengan kalangan muda (pelajar/mahasiswa, umum) mengenai penolakan untuk melupakan sejarah serta pemberdayaan masyarakat untuk menyampaikan sesuatu (dalam hal ini melalui medium audio visual).
Berikut adalah daftar film yang akan diputarkan:
1. Di mana Saya? Where was I ?
[Anggun Priambodo | 2008| 10:39]
2. Sugiharti Halim
[Ariani Darmawan | 2008| 09:52]
3. Trip To The Wound
[Edwin | 2007| 06:42]
4. Bertemu Jen/Meet Jen
[Hafiz|2008| 16:39]
5. Huan Chen Guang /Happiness Morning Light
[Ifa Isfansyah | 2008| 15:00]
6. A Letter of Unprotected Memories
[Lucky Kuswandi | 2008| 09:37]
7. Kemarin/Yesterday
[Otty Widasari | 2008 | 13:02]
8. Yang Belum Usai / The Unfinished One
[Ucu Agustin|2008|09:26]
9. Sekolah Kami, Hidup Kami / Our School, Our Lives
[Steven Pillar Setiabudi | 2008|11:45]
10. Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran/ Chronicles of a (former) Demonstrator
[Wisnu Suryapratama | 2008| 11:04]

Jadwal pemutaran film:
Sabtu, 28 Juni 2008 Pk.19.00 – 21.00 WIB, Amphitheater SSAS.
Minggu, 29 Juni Pk.13.00-15.00 WIB, Bale Handap SSAS.

Jadwal diskusi:
Minggu, 29 Juni 2008 Pk.15.00-17.00 WIB
Pembicara : para partisipan ‘9808’
Moderator : Heru Hikayat




Peristiwa Mei 1998 Tidak Pernah Terjadi
Oleh Gustaff H. Iskandar*

Apa yang benar-benar bisa saya ingat tentang Peristiwa Mei 1998? Rasanya tidak terlalu banyak. Ada sebagian dari diri saya yang ingin menghilangkan beberapa potong peristiwa dalam ingatan itu. Kalau ditanya kenapa, saya sendiri merasa enggan untuk menjawabnya. Mungkin ini adalah gambaran dari kemarahan, rasa kecewa, trauma atau mungkin sebentuk kebingungan ketika berhadapan dengan realitas yang begitu konyol dan menyedihkan. Di dalam benak saya saat ini, apa yang terjadi 10 tahun yang lalu tampaknya tak jauh berbeda dengan sebuah pertunjukan film atau teater dalam sebuah panggung perhelatan raksasa. Sebuah perayaan yang mirip seperti sebuah pesta orgi.

Dalam hal ini, teks demokrasi, perubahan dan reformasi yang hadir diantara kerumunan demonstran, kerusuhan dan kematian ratusan korban hanyalah sepotong fragmen dalam sebuah drama yang bercerita mengenai kolapsnya sebuah negara yang dibangun atas dasar mitos mengenai kejayaan dan romantisme. Peristiwa Mei 1998 adalah pertunjukan agung yang tenggelam diantara jutaan sekuel kenyataan yang terjadi di dalam sebuah ruang epilepsi. Hadir sesaat untuk kemudian menghilang digantikan oleh jutaan peristiwa yang saling berebut untuk menjadi tontonan walau hanya dalam hitungan detik. Kenyataan sepertinya memang tidak pernah benar-benar terjadi di dalam ruang simulasi.

Tapi, apakah benar peristiwa Mei 1998 hanya merupakan gambaran dari sebuah kenyataan yang bermutasi menjadi sebuah mimpi buruk? Waktu itu saya dan beberapa kawan masih berstatus mahasiswa. Terkait dengan peristiwa gerakan Mei 1998, saya masih ingat akan ucapan teman saya yang menyatakan bahwa saat itu sejarah telah memilih untuk menghampiri tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Kita tidak pernah betul-betul menciptakan sejarah pada hari itu. Yang ada, sejarah yang menghampiri dan memaksa kita untuk menerima kenyataan tanpa ada kesempatan untuk menolak.” Begitu kira-kira celoteh teman saya yang sayup-sayup masih terbayang dengan latar belakang suasana demonstrasi mahasiswa yang begitu riuh rendah.

Beberapa saat sebelum peristiwa Mei 1998 terjadi, ada banyak orang yang percaya bahwa pada saat itu momentum perubahan benar-benar akan datang. Saya mungkin salah satu diantara orang-orang itu. Namun ada banyak orang yang kemudian harus kecewa ketika menyadari bahwa harapan yang mereka miliki perlahan telah berubah menjadi sebuah fiksi yang barangkali tidak memiliki kaitan langsung dengan kenyataan hari ini. Setelah 10 tahun bergulir, harapan mengenai perubahan itu kini telah tergerus oleh situasi negara yang terancam bubar karena korupsi, autisme sosial yang akut dan konflik kepentingan yang tidak terkendali.

Kini, dihadapan kita telah hadir 10 karya film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei 1998. Proyek ini merupakan sebuah upaya untuk membuka ruang dialog yang sekaligus merupakan sebuah sikap untuk melawan lupa, sehingga peristiwa Mei 1998 dapat dimaknai sebagai sebuah peristiwa yang monumental. Seorang kawan menuliskan bahwa sejarah adalah upaya manusia untuk memaknai kehidupan yang sekaligus merupakan sebuah cara untuk mempertahankan habitatnya sebagai mahluk yang dikaruniai akal. Oleh karena itu, sikap untuk melawan lupa barangkali merupakan satu-satunya cara untuk melawan hegemoni dan proses dehumanisasi, sehingga kita dapat terus mendorong (mimpi) mengenai perubahan ke arah yang lebih baik. Di luar itu mungkin peristiwa Mei 1998 tidak pernah benar-benar terjadi.

Kyai Gede Utama, 14 Juni 2008

* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation

Labels:

Photobucket

Monday, April 07, 2008

Bintang-bintang, Lautan Yang Tengah Pasang

"Ibu," tanya anak itu kemudian, "benarkah arwah orang mati akan terbang dan menjadi bintang-bintang?"
Ibunya mengangguk.
"Kalau begitu, arwah Bapak juga sekarang berada di tengah bintang-bintang itu ya, Bu?"

kelanjutannya klik disini

Saturday, March 22, 2008

PELESTARI BUDAYA YANG LESTARI

Suci, (40) adalah seorang guru tari wanita yang tahan segala rintangan dalam menghadapi tantangan global akan terkikisnya nilai-nilai budaya yang terus menerus menggerus kehidupan berbangsa di tanah air ini.
Suci bertempat tinggal di Desa Kedunggede Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto telah belasan tahun berupaya melestarikan nilai-nilai seni budaya yang ia tekuni sejak di Surabaya. Kepindahannya ke Mojokerto tidak membuat ia patah semangat akan kehilangan aktifitas di kota yang lebih ramai peminatnya.
Di sebuah gedung KUD di depan Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto, Suci menyewa gedung tersebut dan mendirikan sanggar tari yang diberi nama Sanggar Tari Cikita Arum. Cikita ini berasal dari singkatan ke tiga nama anaknya.
Anaknya yang bungsu (Rizki) adalah penari Remo yang handal walaupun masih usia SD. Ia telah 2 kali menari di Istana Keperesidenan bersama sanggarnya di Surabaya. Lalu pada musim kompetisi tari Remo se Jawa timur tahun 2007 Rizki menyabet gelar penari Remo Terbaik Pertama pada Festival Tari Remo se Jawa Timur di Surabaya beberapa waktu yang lalu.
Dengan usahanya yang sangat gigih dan disiplin, Suci telah berhasil mendatangkan minat para orang tua dari berbagai kecamatan di Mojokerto, malah kini ia sering melancong untuk mendatangi mereka yang mau diberi pelajaran tari.
Jenis tarian yang sangat menonjol adalah tari Remo yang merupakan pelajaran wajib yang harus diikuti seluruh peserta baik laki-laki ataupun perempuan. Jika pada suatu kesempatan semua anak didiknya terkumpul lalu mereka barengan mengadakan latihan, hmmm jangan tanya betapa rasa kekaguman itu muncul tiba-tiba menyeruak terlebih dari sifat magis yang ditimbulkan oleh suara-suara gongseng dari kaki-kaki para penari tersebut.
Tidak hanya tari Remo saja yang diajarkan di sana , namun berbagai tarian kreasi barupun tersedia dalam jumlah stok yang cukup banyak. Tari-tari kreasi baru itu tetap menggunakan nilai-nilai budaya daerah bahkan dari luar daerah Jawa Timur.
Di daerah kabupaten Mojokerto sangat terlihat belum ada keseriusan dari pihak yang seharusnya membantu gerak-gerak dari kantong seni seperti ini. Entah sampai kapan, Suci engkau adalah pejuang yang senantiasa hidup, karena tarianmu adalah hidupmu dan hidupnya seni budaya di sini…




EMINX SUJALMA


website:
eminxsgallery. multiply. com
081586366991 - +620321510165
Address :
Jl A Yani 07 Pohkecik Dlanggu Mojokerto 61371
East Java Indonesia

Labels:

Monday, March 03, 2008

DONLOTAN COMIC BARAT

Nah ketemu lagi situs tempat men-donlot komik barat dari berbagai publisher seperti marvel, dark horse, vertigo, DC, dll
berbagai judul, tema cerita dan karakter hadir dan siap untuk di-donlot...
silahkan kunjungi situsnya, cari komik sesuai dengan keinginan anda dan donlot :D

Labels:

Wednesday, February 27, 2008

Identitas dan Konstruksi Komik Indonesia

Identitas dan Konstruksi Komik Indonesia

"Perkata identitas seperti menjadi wacana ”laten” yang menyelusup hampir di setiap diskusi atau obrolan santai di antara komunitas komik"

Ada sebagian orang yang merasa gelisah ingin mencari sebuah "rumah" yang bernama "Indonesia". Sebagian lagi tidak terlalu mementingkan hal itu karena sudah merasa sebagai warga dunia. Tulisan ini juga tidak berkeinginan untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Hanya ingin mengurai dua kubu pemikiran yang selama ini beradu pandangan mengenai permasalahan identitas. Hal lain karena identitas adalah sesuatu yang tak pernah berhenti, final, dan tuntas. Stuart Hall menyebutnya sebagai "sesuatu yang tak pernah sempurna, selalu dalam proses dan selalu dibangun dari dalam".

Beberapa pertanyaan di seputar identitas

Seberapa pentingkah identitas? Atau, adakah sesuatu tanpa identitas? Apa sih identitas itu? Coba kita bayangkan, adakah sesuatu yang tanpa nama. Sesuatu yang biasa menyembunyikan identitasnya. Agen rahasia sekali pun ternyata ber-inisial. Misalnya, Mr. Q, M, atau kode 007. Itu berarti beridentitas juga!

Atau mungkin, adakah sesuatu yang disebut sebagai sesuatu atau bukan sesuatu. Mungkinkah? Karena sesuatu di luar dirinya akan menamakannya dengan sesuatu dan memasukkannya ke dalam suatu kategori sesuatu. Sesuatu tidak pernah berdiri sendiri, sesuatu di luar dirinya selalu akan melempar dirinya pada kategori-kategori: nama, jenis kelamin, bahasa, agama, dan lain-lainnya.

Dalam proses tersebut, banyak negara yang telah mencoba menggali dan memaknai kata komik dengan istilahnya sendiri. Kita boleh iri pada beberapa negara di Asia, kita kenal Manga (Jepang), Manhwa (Cina), dan Manwa (Korea). Di belahan Eropa, orang Prancis menyebut komik dengan Bande Desinee (yang kurang lebih berarti mendesain panel komik) atau orang Spanyol menyebutnya Te Be Os. Di Italia lain lagi, mereka menyebutnya Fumetti (asap kecil, diambil dari pemaknaan balon teks pada komik yang menyerupai asap). Kita pernah mencoba menamai komik dengan cergam atau cerita bergambar, tetapi istilah itu sering kali dan sangat mudah disalahtafsirkan dengan picture books (buku cerita bergambar) yang tidak memiliki karakter sequential sekaligus meleburnya kata dan gambar seperti layaknya media komik.

Seberapa penting identitas itu? Ketika kita mendengar kata Manga, tentu dengan cepat kita dapat mengasosiasikannya dengan komik yang berasal dari negara Jepang. Berarti, identitas memberikan “kejelasan” tentang apa dan siapa kita. Kejelasan? Bagaimana dengan kondisi global dan karut-marut budaya sekarang ini? Misalnya, kaum laki-laki yang merasa dirinya perempuan dan kategori vice versa-nya, atau bahasa yang kini tidak lagi menjadi identitas. Ketika dunia mengglobal, seseorang dapat menguasai bahasa yang bukan bahasa ibunya, dengan menguasai banyak bahasa. Dalam situasi ini, muncul identitas-identitas alternatif dan mendapat tempat dalam sebuah logika permainan bahasa, tanda, dan simbol. Sebenarnya seseorang tetap berada pada proses dan mencari formasi identitasnya masing-masing untuk menjadi apa dan siapa. Begitu juga komik Indonesia.

Dua bentuk pemikiran yang berkembang di seputar identitas

Ada kelompok yang merasa punya rumah atau setidaknya punya “imajinasi” tentang rumah, sebuah tempat buat mereka untuk pulang. Kesadaran ini yang kemudian melatarbelakangi sikap mereka ketika dihadapkan pada sebuah "identitas kultural" lain.

Di lain pihak muncul kelompok yang homeless, di mana pun tempat yang mereka anggap menarik untuk disinggahi itulah rumah bagi mereka. Mereka lahir tanpa menanggung beban emosional untuk terikat pada sebuah “rumah” kultural tertentu untuk kembali. Generasi ini dilahirkan dalam atmosfer yang telah diuniversalkan oleh modernitas. Intensi interaksi dengan dunia luar sudah terbangun sejak dini. Bahkan, sebagian dari mereka sejak kecil sudah dibiasakan memakai bahasa asing.

Upaya mencari keindonesiaan santer disuarakan oleh kelompok yang pertama, yang rata-rata masih sangat dekat dengan ranah tradisi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor geografis (tempat mereka tinggal masih kental tradisi tempatan) atau faktor semangat zaman (rata-rata telah berumur), mereka masih sempat merasakan berkobarnya semangat nasionalisme dan masa-masa kejayaan komik Indonesia. Karena itu sangat bisa dipahami kalau hal yang menarik bagi mereka, terutama yang bersifat lokal. Tetapi di sisi lain, kelompok ini cenderung menutup diri terhadap hal-hal yang baru, terutama yang mereka anggap bertentangan dengan pandangan mereka.

Kelompok kedua, boleh disebut kelompok nothing to loose. Mereka dibesarkan di kota-kota yang telah diuniversalkan modernitas. Mereka adalah warga dunia yang dibesarkan di antara gedung-gedung pencakar langit yang sama dan sebangun dengan gedung-gedung di Tokyo ataupun New York. Mereka tumbuh di antara banjirnya komik-komik luar, seperti Manga ataupun American style. Hal yang patut dihargai adalah mereka telah terbiasa dengan pola industri, sangat cair dalam berinteraksi dengan dunia global, dan sangat receptive terhadap hal-hal yang baru, terutama yang menyangkut teknologi. Tetapi di sisi lain mereka tidak terlalu paham potensi lokal.

Mengonstruksi identitas komik Indonesia

Membincangkan identitas, berarti juga membicarakan persoalan "kejelasan". Hal itu berimplikasi pada “kecerdikan” kita dalam memosisikan komik Indonesia di antara mazhab-mazhab komik dunia. "Differentiate or Die" sebuah rumus marketing Al Ries mempertegas hal itu. Kejelasan identitas komik Indonesia dapat digali dari hal-hal yang bersifat lokal, dalam pengembangannya dapat menjadi tema cerita, membangun karakter tokoh, ploting cerita, sudut pandang atau cara pandang dalam story telling, dan lain sebagainya. Kita dapat menggali potensi-potensi ini dari halaman rumah kita sendiri. Rumus sederhananya adalah ketika kita berbeda, kita akan dilirik oleh orang lain. Untuk mempermudah kita dilirik oleh komunitas komik dunia dibutuhkan kepiawaian kita dalam berinteraksi di dunia global. Sarana dan prasarana, termasuk infrastruktur dalam industri komik, plus teknologi yang mendukung sangat membantu proses interaksi tersebut.

Idealnya dalam mengonstruksi kembali identitas komik Indonesia, dibutuhkan orang-orang “anomali” yang mampu berempati terhadap kedua kelompok di atas. Kita dapat mengambil contoh dari kesuksesan seorang Garin Nugroho di dunia film. Film-filmnya mendapat apresiasi yang sangat baik di dunia internasional karena menampilkan khazanah lokal Indonesia. Dengan beda dan kualitas yang setingkat dalam proses produksinya, Garin mendapat posisinya sendiri dalam perfilman dunia. Dengan berpikir terbuka, mau belajar dan mengadopsi hal-hal yang baru dalam industri maupun teknologi, juga mau menggali potensi lokal yang kita miliki akan membuka jalan bagi konstruksi awal identitas komik Indonesia.***

Triyadi Guntur W.
Dosen dan peneliti komunikasi visual

Labels: